C-212 Aviocar, pesawat ini dirancang oleh pabrik asal Spanyol, EADS CASA sebagai sebuah pilihan alternative yang modern bagi militer mereka. Karena sampai akhir tahun 1960an, Angkatan Udara (AU) Spanyol masih mengoperasikan pesawat lawas bermesin piston, yakni Junker Ju-52 dan Douglas C-47 Skytrain.

Pada 26 Maret 1971, prototipe pertama pesawat ini berhasil mengudara. Berselang tiga tahun, AU Spanyol pun memutuskan untuk mengakuisisi C-212 guna melakukan peremajaan terhadap armada mereka.

Suksesnya C-212 memperkuat AU Spanyol ternyata menjadi perhatian khusus operator penerbangan sipil. Melihat peluang tersebut, CASA pun membuat langkah cerdas dengan memproduksi versi komersial sipil yang dikirim pertama kali pada pertengahan tahun 1975.

C-212 memiliki beberapa seri, yakni seri 100, 200, 300, dan 400. Seri 100 terdiri dari C-212A yang merupakan versi produk militer orisinal. Oleh AU Spanyol seri ini dikenal dengan T-12B (C-212-5) dan D-3A (C-212-5 series 100M) yang mereka gunakan sebagai pesawat  medevac (medical and evacuation).

Varian lain dari seri 100 yakni, C-212AV atau T-12C (versi transport VIP), C-212C (versi sipil orisinal), C-212D atau TE-12B (C-212A yang dikonversi untuk keperluan pelatihan navigasi). Terakhir adalah NC-212-100 yang diproduksi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) mulai tahun 1976 dengan lisensi CASA. Bermodalkan lisensi dari CASA, PTDI berhasil memproduksi 28 unit pesawat seri ini sebelum akhirnya beralih ke NC212-200.

Selanjutnya seri 200. Pesawat C-212 pada seri memiliki badan yang lebih panjang dan disematkan mesin baru yang diperkenalkan pada tahun 1979. C-212 seri 200M merupakan pesawat versi militer. Pada seri ini, untuk AU Spanyol dikenal dengan T-12D dan untuk AU Swedia dikenal dengan Tp 89. Sementara seri NC212-200 merupakan pesawat yang dibuat IPTN di bawah lisensi CASA.

Seri 300 mulai tahun 1987 telah dilakukan produksi dengan versi standar. Seri ini dilengkapi dengan winglet untuk menunjang performa yang lebih baik. Seri ini terdiri dari C-212 seri 300M yang merupakan versi militer; C-212 seri 300 airliner, pesawat regional dengan 26 kursi; C-212 seri 300 utility yang menjadi versi penggunaan sipil dengan 23 kursi; dan terakhir C-212 seri 300P yang merupakan versi penggunaan sipil dengan mesin Pratt & Whitney Canada PT6A-65.

Seri yang terakhir adalah seri 400. Versi yang diberi kode C-41 oleh Amerika Serikat ini memiliki dimensi yang lebih besar. Seri ini melakukan terbang perdananya pada tahun 1987. Sementara, pesawat yang diproduksi IPTN (sekarang PT Dirgantara Indonesia/PTDI), NC212-400 meraih rekor penerbangan pertamanya pada pertengahan April 2014. Pesawat tersebut merupakan pesanan dari pemerintah Thailand. Hal yang menarik adalah produksi pesawat seri 400 ini telah dialihkan ke pabrik PTDI di Bandung.

Sejatinya C-212 merupakan pesawat penumpang berdaya angkut sedang atau menengah yang dibuat EADS CASA. Sedangkan pesawat dengan berjenis CN212 dengan berbagai serinya merupakan produk  yang lahir dari hubungan mesra antara IPTN/PTDI dengan CASA.

Kisah itu bermula pada versi yang dirancang dan diproduksi sendiri oleh CASA, C-212 ternyata kurang laku keras di pasaran. Berkat kerja sama CASA dengan IPTN, akhirnya pesawat ini memiliki pamor yang kuat sehingga cukup diminati oleh negara-negara sahabat.

PTDI merupakan satu-satunya produsen pesawat di dunia yang mengantongi lisensi untuk memproduksi pesawat seri 400 di luar pabrik utamanya di Spanyol. Dalam kerja sama yang terjalin manis dengan CASA, IPTN berkomitmen untuk membeli sekaligus memproduksi sekitar seratus unit pesawat NC212. Tak disangka, komitmen itu pun akhirnya terwujud dengan manis.

Pada Januari 2008, EASD CASA (kini Airbus Defence and Space/ADS) pun membalas komitmen PTDI dengan memindahkan fasilitas produksi C-212 mereka ke markas PTDI yang berlokasi di Bandung, Jawa Barat. PTDI tercatat telah berhasil memproduksi sebanyak 105 unit pesawat NC212 hingga awal tahun 2017.

“Pesawat NC212 yang sudah dibuat PTDI sejak akhir tahun 1970an ada 105 unit. Pesawat jenis tersebut yang diproduksi tahun 2000an kebanyakan dioperasikan oleh pihak militer,” tutur M Umar Saripudin, Sepervisor Pengembangan Bisnis Pesawat Terbang PTDI di Dabo-Singkep, Maret 2017.

Di Indonesia, operator penerbangan sipil yang yang menjadikan NC212 ini sebagai armada operasional mereka adalah Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), STPI Curug, Merpati Nusantara Airlines, Deraya Air Taxi, Bouraq Indonesia Airlines, Dirgantara Air Service, SMAC, Mantrust, Trans Wisata Prima Aviation (TWA).

Sayangnya, selain Deraya dan TWA (tak termasuk BPPT dan STPI Curug) semua maskapai tersebut telah tutup. Maskapai penerbangan perintis lain yang saat ini juga menjadikan NC212 sebagai armada mereka adalah Susi Air. Namun seri NC212-200 tersebut merupakan pesawat yang disewa Susi Air dari TWA.

Selain memproduksi pesawat versi angkut penumpang, PTDI juga memproduksi pesawat versi militer yang memiliki kemampuan intai maritim atau maritime patrol aircraft (MPA).  Pesawat NC212 yang dikonversi untuk memiliki kemampuan intai maritim berasal dari seri 200. Operator militer yang telah memiliki NC212-400 MPA sebagai armada intainya salah satunya Skadron Udara 800 Patmar (Patroli Maritim) TNI AL.

Berbeda dengan pesawat berkemampuan sejenis seperti Boeing B727-200 Surveillance dan CN235 MPA yang berwajah sangar, NC212 MPA tampak dengan perawakan lebih sederhana dibanding keduanya. Namun jangan tertipu dengan perawakannya, pasalnya pesawat ini telah disematkan perangkat Thales AMASCOS (Airborne Maritime Situation and Control System) yang dipadukan dengan radar Ocean Mater Surveillance dan FLIR (Forward Looking Infra Red).

Sayangnya produksi seri 200 sudah dihentikan dan beralih ke seri 400. Namun dengan adanya kontrak kerja sama dengan ADS pada November 2006 lalu, PTDI berhasil mengantongi lisensi penuh sebagai produsen dan perakit pesawat seri NC212-400. ADS pun telah menyerahkan sepenuhnya fasilitas produksi pesawat seri tersebut, termasuk jig, tools hingga pergundangan (slow mover materials) kepada PTDI.

PTDI pun terus melakukan pengembangan terhadap pesawat seri 400 tersebut. Pabrikan pesawat yang bermarkas di Bandung ini kini telah menelurkan generasi terbaru dari seri 400, yakni NC212i. NC212i merupakan pesawat multiguna dengan daya angkut 28 penumpang. Dari segi penampilan akan terlihat serupa dengan seri-seri sebelumnya, yang membedakan adalah pesawat ini menggunakan winglet.

NC212i juga telah tersematkan digital avionic yang dilengkapi dengan autopilot. Dengan mengusung konsep pesawat yang memiliki kemampuan multiguna tersebut, tak hanya memiliki konfigurasi sebagai pesawat angkut penumpang, pesawat ini pun dapat diatur konfigurasinya untuk mampu mengemban tugas melakukan operasi hujan buatan, patroli maritim dan penjaga pantai.

Sifatnya yang low maintenance, dapat beroperasi secara STOL (short take off and landing), mampu mendarat serta tinggal landas dari unprepared runway, menjadikan sosok NC-212 primadona untuk tugas-tugas perintis dan punya peran besar dalam mendukung logistik di pangkalan-pangkalan udara terpencil. Segudang keunggulan dari pesawat mungil inilah yang membuat Filipina memesan 2 unit dan Vietnam memesan 3 unit NC212i.

 

INBOX

(Sumber data: Majalah Angkasa edisi Mei 2017)

Operator Militer C-212/NC212
-Afrika Selatan -Amerika Serikat -Angola -Argentina
-Bolivia -Myanmar -Chad -Chili
-Djibouti -Filipina -Guinea Khatulistiwa -Guinea
-Ghana -Indonesia -Kolombia -Lesotho
-Meksiko -Nikaragua -Panama -Paraguay
-Perancis -Portugal -Spanyol -Swedia
-Sudan -Suriname -Thailand -Uni Emirat Arab
-Uruguay -Venezuela -Vietnam -Yordania
-Zimbabwe

Populasi NC212 Produksi IPTN/PTDI

Operator sipil di Indonesia:
-Merpati Nusantara Airlines        23 unit
-Pelita Air Service                           12 unit
-BPPT                                                  6 unit
-Deraya Air Taxi                               4 unit
-Bouraq Indonesia Airlines            3 unit
-Dirgantara Air Service                   3 unit
-SMAC                                                3 unit
-Mantrus                                            3 unit
-Trans Wisata Prima Aviation       1 unit
-STPI Curug                                      1 unit

Operator militer di Indonesia:
-TNI AL                            16 unit
-TNI AU                            14 unit
-TNI AD                             8 unit

Operator di luar negeri:
-MOAC Thailand             5 unit
-Guam                               2 unit
-TKS Thailand                  1 unit

Advertisements